Gerakan Memanusiakan Manusia

IMG_4756

Foto kegiatan konsultasi kesehatan dan USG gratis untuk penduduk sekitar

Kota Bogor sangat kaya akan keberagaman komunitas. Dengan menuliskan hashtag #KomunitasBogor di kolom pencarian twitter, kita dapat menemukan betapa ramainya komunitas Bogor yang sedang mempromosikan berbagai kegiatan yang masing-masing sedang dilakukan. Komunitas pecinta sulap, dongeng, fotografi, bahasa, musik, kesehatan, backpacker, puisi, pendidikan, dan masih banyak komunitas lainnya dapat kita ikuti dengan gratis sesuai dengan pilihan dan minat kita masing-masing. Tentunya semua komunitas ini berfungsi sebagai ajang menyalurkan minat dan bakat sekaligus berkontribusi langsung dengan terjun ke dalam dunia masyarakat dengan membawa perubahan ke arah positif. Aamiin.

Sayangnya, walaupun Kota Bogor sudah memiliki beragam komunitas yang membawa Bogor ke arah yang lebih baik, tentu permasalahan sosial masih tetap ada, contohnya seperti pengamen, sampah, dan kemacetan. Saya memiliki pengalaman yang kurang menyenangkan mengenai permasalahan sosial tersebut, khususnya dengan pengamen atau anak di Kota Bogor. Ketika saya masih menduduki bangku SMA tujuh tahun yang lalu, tepatnya di tahun 2008, saya didatangi oleh dua anak kecil yang mungkin perkiraan usianya masih 5 tahun, mereka datang dan langsung mencubit, memukul, menarik-narik seragam saya sambil meminta sejumlah uang. Hhhhhh….. Entahlah siapa yang mengajarkan mereka sampai bisa berbuat seperti itu. Lebih mengerikan lagi ketika saya melewati jalan yang sama di tahun 2014, tepatnya enam tahun setelah kejadian berlangsung, saya mendapati anak itu sudah besar dan masih meminta-minta sambil membawa rekannya yang lebih kecil, seolah ia sedang menularkan ilmu yang ia miliki kepada generasi penerusnya.

Keadaan yang sama mudah ditemui di beberapa wilayah di Bogor, khususnya jika kita menggunakan transportasi umum untuk berpergian. Jujur, saya sendiri pun takut jika angkutan yang saya tumpangi dimasuki oleh pengamen. Berbeda cara dengan anak kecil yang memukul dan mencubit, pengamen remaja atau dewasa memiliki trik lain. Beberapa dari mereka terkadang memiliki tatoo di seluruh tangan dan dari mulutnya yang sedang bernyanyi tercium aroma rokok atau minuman keras. Mereka meminta dengan nada mengancam sambil menunjuk penumpang, jika tidak berhasil mendapatkan uang, sumpah serapah akan dilontarkan sambil memukul pintu angkutan umum dengan kesal. Karena perasaan takut dan ingin pengamen segera pergi, beberapa penumpang pun rela memberikan uangnya walaupun peraturan dilarang memberikan sejumlah uang kepada pengamen dan peminta-minta sudah tertulis jelas di plang peraturan Kota Bogor.

IMG_4065_wm

Pengamen biasanya berlalu lalang di jalan pajajaran dan tugu kujang

Pengadaan razia dan penambahkan fasilitas ruang publik sudah kerap dilakukan oleh pemerintah sebagai upaya pelaksanaan program untuk meningkatkan kenyamanan di Kota Bogor, namun permasalahan sosial kerap kali terjadi. Apa salahnya jika semua ikut bergerak membantu pemerintah sebagai bentuk kepedulian dan kasih sayang kepada kota ini? Mari kita membuat perubahan berhenti untuk tidak peduli. 

“Hidup adalah pilihan. Beberapa orang terjebak dalam kehidupan sehari-hari mereka yang biasa; kaku, ketakutan dan sebagian tidak peduli? Untuk mendapatkan hidup yang lebih baik kita harus memilih dimana seharusnya kita berada.” – Albert Einstein

Alih-alih membuat perubahan dengan cara mengumumkan peraturan tanpa dipedulikan, diskusi penuh penolakan yang tiada berujung, sampai memaksakan kehendak tanpa mau mendengarkan, mari kita melakukan perubahan secara humanisme. Pergunakan pendengaran, penglihatan, hati, dan pemikiran kita sendiri, dengan baik dan lebih peka. Bantulah apa yang kita rasakan memerlukan bantuan kita dengan cara yang manusiawi, tidak seperti memperlakukan hewan pengganggu, diberikan makan hari ini dengan cara yang tidak manusiawi dan membiarkan mereka memintanya kembali dengan cara yang lebih buas keesokan harinya.

Advertisements

5 thoughts on “Gerakan Memanusiakan Manusia

  1. Sudah sering dengar ngamen/ngemis/minta sumbangan/baca puisi yang disertai intimidasi verbal atau gestural, tapi baru tahu kalau sekarang sudah sampai kontak fisik cubit/pukul.

    Kompleks ya. Kapan itu di TV malah sempat lihat ada liputan ttg keluarga sangat miskin (yg utk tebus biaya melahirkan di RS saja kesulitan) yang terus bikin anak, supaya untuk minta-minta pasukannya terus bertambah, dan kedua ortu yang sehari-hari cuma diam di tempat itu saat diwawancara cuma cengar-cengir santai-santai saja.. Hadeuh!

  2. Pingback: Bicara Tentang Uang dan Biaya Perawatan Anak | windamaki's blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s