Menjadi Ibu

IMG_5688

Daripada saya harus membayari kakak saya makan pecel ayam karena tidak menepati janji untuk kembali menulis di blog ini, lebih baik saya segera menulis sekarang. Yak, selamat datang kembali ke blog windamaki! (tentunya saya sedang berbicara kepada diri sendiri)

Matahari Ar Sakha, si pria mungil yang berusia hampir empat bulan telah memenuhi mata saya hampir 24 jam dalam sehari. Jatah perhatiannya kini lebih banyak daripada handphone suami yang memang lebih sering berada di genggaman saya.

Kehidupan sehari-hari kini hampir 100% berubah drastis. Dari yang tadinya tidur selama 5 jam masih dianggap kurang, sekarang bisa tidur selama 4 jam rasanya merupakan berkah dan keajaiban. Masih banyak lagi kebiasaan baru yang semoga semakin lama semakin terbiasa dan dapat disyukuri dengan baik. Aamiin.

Banyak orang mengatakan baby blues itu dialami hanya sampai dua minggu saja, tapi sampai usia Matahari hampir empat bulan perasaan saya masih campur aduk, cepat merasa kesal, mudah tersinggung, stress sampai sakit, dan…. hey! sepertinya saya butuh pertolongan. Setelah saya cek data riset ternyata memang ibu rumah tangga tercatat memiliki hormon stress yang lebih tinggi dibandingkan ibu bekerja penuh atau bekerja paruh waktu. Ha! Perlu digaris bawahi juga selama empat bulan saya memang tidak pernah “keluar rumah” alias hanya pergi ke warung terdekat saja, penuh waktu mengerjakan pekerjaan rumah yang monoton dan menolak pompa asi sehingga Matahari harus selalu bersama saya. Ketidakbebasan yang saya buat sendiri membuat saya menjadi orang yang super menyebalkan.

Secara terus menerus pikiran saya diselimuti oleh perasaan tidak berdaya yang menyiksa. Ingin kembali bekerja di luar, ingin ini, ingin itu, ingin melakukan banyak hal tapi merasa lebih bijak jika tidak dilakukan sekarang. Sampai pada secara tidak kebetulan mata saya tertumbuk pada tulisan di suatu artikel, “Becoming a mom means you’ve accepted that for the next 16 years of your life, you will have a sticky purse.” – Nia Vardalos. Dengan mengenyampingkan arti keseluruhan dari kutipan tersebut, saya berfokus pada tulisan yang sengaja ditulis dengan cetak tebal yang berhasil mengoyak hati dan membuat tenggorokan tercekat. Luput dari pikiran bahwa merawat anak merupakan pelengkap dari rangkaian setelah hamil dan melahirkan. Akhirnya saya menyadari bahwa pikiran negatif yang berhasil menguasai saya secara brutal merupakan buah dari ketidaksiapan dalam menghadapi perubahan.

Ikhlas. Belajar ikhlas dan fokus. Fokus kepada siapa? Fokus kepada anak kita. Apa yang ia lihat, dengar dan rasakan merupakan tanggung jawab kita karena semuanya merupakan pelajaran baginya sampai akhirnya ia cukup dewasa untuk dapat menjalani hidup dan pilihannya sendiri. Buku apa yang ia baca, apa yang ia makan, kegiatan apa yang ia lakukan dapat kita kontrol apabila kita fokus kepada anak. Saya menyebutnya sebagai investasi, walaupun kita memang tidak boleh mengharap upah dari apa yang kita upayakan, tetapi manusia tetap harus berusaha dan memiliki kemauan yang kuat.

Man shabara zhafira. Siapa yang bersabar akan beruntung. Toh jika sudah “berani” untuk menikah, berarti saya sudah menekan kontrak untuk meluangkan waktu hidup saya dengan berbaik hati kepada suami dan merawat anak dengan baik. Mungkin sebelumnya saya lupa atau mungkin saya baru sadar bahwa memang itu lah tugas saya yang sebenarnya?

Audzubillahiminasyaitonirojim. Bismillahirohmanirohim.

Advertisements

2 thoughts on “Menjadi Ibu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s