no backup plans

IMG_4219

Seseorang mengatakan kepada saya bahwa jika menginginkan sesuatu, kita harus memiliki kemauan yang kuat dan tidak menyiapkan rencana cadangan. Hal ini baru saya berlakukan ketika saya hamil. Pengalaman dari contoh-contoh yang saya lihat, buku-buku yang saya baca, beserta pelatihan-pelatihan yang saya ikuti membuat saya menjadi “semakin” keras kepala dengan empat hal yang saat ini dianggap cocok untuk saya.

1. Melahirkan di Bidan
Ada teman saya yang takut melahirkan di bidan, saya malah kebalikannya. Ada hal yang saya pikir akan membuat tidak nyaman jika melahirkan di rumah sakit. Khawatir nanti bayi saya akan dibawa ke ruang bayi alias tidak bisa rawat gabung dan takut berdebat mengenai IMD dan sufor (seperti pengalaman kakak saya dulu tapi konon saat ini kebanyakan rumah sakit sudah mendukung IMD dan ASI). Memang aneh, tapi karena ketakutan itu lah saya mengkondisikan tubuh saya agar bisa melahirkan di bidan, dengan kata lain harus dengan proses persalinan normal. Sampai hamil 9 bulan pun saya masih tetap jalan kaki setiap pagi dan berenang setiap hari libur, ditambah dengan makan banyak buah dan sayuran. USG dan pemeriksaan kehamilan dilakukan di bidan, sama sekali tidak mau menyentuh rumah sakit untuk menghindari kemungkinan harus melahirkan di sana. Alhamdulillah permohonan dan segala usaha dikabulkan :D.

2. Food Combining
Sejak kecil saya terbiasa bertemu dokter. Sakit? Tenang saja, kan ada obatnya. Hingga akhirnya saya mengikuti seminar mengenai pola makanan sehat oleh dokter anak dan beliau mengaku sudah dua tahun tidak mengonsumsi obat-obatan. Hah, bagaimana bisa? Apalagi ia mengaku memiliki sakit maag akut. Bapak dokter bercerita kini ketika ia sakit ia lebih memilih untuk “berkonsultasi” dengan tubuhnya sendiri, dengan mengingat apakah ia kurang asupan cairan, kurang istirahat, atau kurang mengonsumsi makanan sehat. Ia memilih untuk sembuh secara natural tanpa obat-obatan. Sebagai orang yang sejak kecil sudah menenggak ratusan obat, seminar bapak dokter tadi menjadi titik cerah untuk saya dengan turut mencoba menghindari obat-obatan. Ditambah lagi dengan secara tidak kebetulan saya dipertemukan dengan akun twitter @erikarlebang yang mengenalkan pola makan food combining , yang juga dari cuitannya terlihat ia sebisa mungkin menghindari obat dan segala produk olahan susu. Walaupun dalam prakteknya masih jauh dengan juklak food combining, tapi saya merasakan banyak manfaat dari buah-buahan yang saya konsumsi setiap hari, ketika hamil pun ternyata bisa bebas dari obat dan berbagai kapsul vitamin 😀

3. Menyusui
Menyusui langsung alias tidak menggunakan pompa dan botol sama sekali. Menjadi kegalauan saya ketika saya hamil, apakah perlu asi disimpan, dibekukan lalu dicairkan kembali?  Tapi bersumber dari beberapa bacaan dan pelatihan, yang mengungkapkan bahwa asi yang disimpan bisa beresiko ada bakteri yang masuk dan kehilangan beberapa zat yang penting untuk anak, maka saya membuat keputusan untuk menyusui langsung. Apalagi ketika dulu saya mengikuti “sekolah” pra nikah, guru saya bertanya, “Kenapa letak payudara ada di dada? Kenapa tidak di ujung jari yang lebih memudahkan untuk menyusui?” Jawabannya adalah bahwa setiap anak perlu dekapan dan kehangatan yang bisa didapatkan selain dari air susu. Ada artikel yang lebih “galak” lagi dalam menanggapi situasi ini, bisa dibaca di sini –> http://m.liputan6.com/health/read/2140261/menyusui-langsung-lebih-banyak-manfaatnya

4. Clodi
Teringat ketika saya menonton acara talkshow di satu stasiun televisi dan yang menjadi tamu ketika itu adalah pengusaha clodi. Awalnya ia merupakan pembeli tetap popok sekali pakai (pospak) namun dirinya merasa biaya yang dikeluarkan untuk membeli pospak semakin memberatkan. Selain beratnya biaya, hal yang membuatnya berubah adalah ketika rumahnya mengalami kebanjiran. Bersama air, banyak pospak bekas yang ikut mengapung turut masuk ke dalam rumahnya ketika banjir dan ia anggap ini adalah sebuah persoalan. Hal itu menjadi motivasi baginya untuk memproduksi clodi sendiri. Clodi adalah solusi untuk biaya jangka panjang yang lebih murah dan sampah yang lebih sedikit. Kenapa saya masih menyebutkan sampah? Karena beberapa kemasan clodi ketika baru dibeli masih menggunakan plastik. Dari sejak lahir hingga berusia empat bulan ini Matahari masih menggunakan clodi yang memang untuk pembeliannya dicicil sejak dari saya mengetahui bahwa usia kandungan sudah satu bulan. Alhamdulillah setiap mengganti popok, saya tidak perlu sambil menghitung berapa biaya yang dikeluarkan untuk membeli popok baru atau memikirkan apakah stok akan cukup atau tidak. :’D Tapi belakangan ini saya mendapatkan informasi bahwa sebaiknya anak hanya dipakaikan celana biasa saja tanpa menggunakan popok, karena baik untuk perkembangan psikologis ke depannya. Hmm, memang sekarang terasa sekali bahwa saya ketergantungan untuk memakaikan clodi, semoga untuk berikutnya saya bisa menerapkan ilmu baru ini.

Seperti yang lainnya, saya pun masih proses belajar, segala keputusan yang dibuat bisa benar dan bisa juga tidak. Tentunya setiap orang punya pertimbangan dan kepentingan masing-masing yang membuat terciptanya suatu keputusan. Tulisan kali ini hanya bermaksud untuk berbagi tanpa menghakimi setiap pilihan setiap orang. Ayookk kita tetap semangat belajar sampai akhir hayat. 😀

Advertisements

3 thoughts on “no backup plans

  1. Pingback: Kehamilan yang (Tidak) Dinantikan | windamaki's blog

  2. Pingback: Serba Serbi Kehamilan Kedua | windamaki's blog

  3. Pingback: Bicara Tentang Uang dan Biaya Perawatan Anak | windamaki's blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s