Tentang Pernikahan

IMG_7628

Pagi ini diawali dengan suara tawa Matahari yang membangunkan saya pukul dua pagi. Ya, bocah kecil ini memang ceria sekali jika waktu tidurnya cukup dan perutnya belum terasa lapar. Sambil berguling-guling dan bercanda dengan Matahari di kasur, tangan saya gatal ingin membuka facebook yang akhirnya menyebabkan Matahari merengek karena ibunya menjadi lebih fokus melihat layar. Hmm, sepertinya memang sudah saatnya saya melakukan pengaturan waktu agar tidak bermain smartphone ketika sedang bersama Matahari.

Matahari akhirnya tertidur pulas, inilah waktu dimana saya bisa menulis walaupun sebenarnya mata sudah semakin berat. Sambil bersenang-senang melihat facebook, saya melihat akun Ibu Grace Melia menyebarkan tautan tulisannya di blog mengenai terapi Hipnoparenting Pasutri yang membuat saya semakin sadar bahwa dunia pernikahan memang sangat istimewa. Sesuai dengan pengalaman, biasanya masa-masa pendekatan pria dan wanita diawali dengan pencarian hal-hal yang berbau “sama”. Entahlah itu lagu kesukaan, hobi atau prinsip yang sama dan kemudian dapat mengundang pikiran “wah, ternyata kita cocok ya,” ujar kita sambil tersenyum-senyum hilang arah. Ternyata pernikahan menawarkan hal yang sama sekali lain, baru saya sadari sekarang bahwa menyenangi hal yang sama pada orang lain adalah bentuk lain dari mengagumi diri sendiri x)).

Saya hanya mengangguk-angguk tanda setuju ketika membaca tulisan Ibu Grace, walaupun tidak mengalaminya, rasanya saya tetap mengerti. Tulisannya mencubit saya yang akhir-akhir ini memang memikirkan bahwa dunia pernikahan memang harus dipelajari, pencegahan lebih baik daripada mengobati. Pembahasan ini mengingatkan saya ketika mengikuti seminar pra nikah dulu, dimana hampir seluruh peserta seminar mengaku bahwa pernikahan orang tuanya sendiri tidak masuk dalam kategori pernikahan bahagia. Di seminar tersebut juga kita melihat video mengenai pertengkaran hebat pasutri yang sepertinya memang sudah menjadi kegiatan hariannya dan biasa saja untuk dilakukan, menyeramkan sekaligus menyedihkan memang.

“Cerai adalah cara ‘mudah’ untuk dilakukan. Cara yang ‘sulit’ adalah mau melakukan introspeksi, mau melakukan perbaikan diri, mau melakukan transformasi diri, mau melakukan perubahan mindset, mau berjuang, mau untuk membekali diri dengan knowledge dan skill yang dibutuhkan untuk mengatasi masalah ini, mau mengalami perasaan tidak nyaman dalam proses ini, mau melepas ego, mau bersabar dalam prosesnya,” ujar Pak Noveldy yang menganggap perceraian adalah bentuk dari melarikan diri.

Saya terpanggil kembali untuk membuka beberapa ayat-ayat Al-Qur’an yang diberikan guru kami ketika saya dan Ayah Herry diberi pembekalan sebelum menapaki dunia pernikahan. Pelajarannya adalah mengenai tentang pentingnya diri kita untuk menjauhi kebanyakan prasangka, janganlah mencari-cari kesahan orang lain, jangan mengolok-olok, dan ingatlah bahwa kita memang dilahirkan berbeda-beda dan memiliki pendapat yang berbeda pula.

Audzubillahiminasyaitonirojim. Bismillahirohmanirohim.

Al- Hujurat:12. Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.

Al- Hujurat:11. Hai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barang siapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang lalim.

Al- Hujurat:13. Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

Ar- Rum:22. Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.

Az- Zariyat:8. sesungguhnya kamu benar-benar dalam keadaan berbeda-beda pendapat

Semoga kita tetap bisa mengambil hal positif dan pelajaran dari setiap kejadian yang kita lihat atau pernah kita alami. Oya, terakhir terima kasih kepada Ibu Grace yang tulisannya menjadi sumber inspirasi :). Selamat pagi dan permisi 😀

Advertisements

6 thoughts on “Tentang Pernikahan

  1. Peluk mba Winda. Kata orang (aku juga nggak tau bener atau nggaknya) masa pernikahan paling challenging adalah di tahun kelipatan 5. Mba Winda sudah berapa tahun nih married? Aku mau 5 tahun. Degdeg-an euy. Hahaha. Saling mendoakan ya, Mba 🙂

  2. Pernikahan memang sebuah proses belajar tiada henti ya mba Winda. Aku juga yang masuk tahun pernikahan ke 15 masih terus belajar mengenal pasangan. Mudah2an pernikahan mba selalu bahagia dan dilindungi Allah SWT ya.. Aamiin. Tetep semangaaaaat ! ;).

  3. Pingback: Bicara Tentang Uang dan Biaya Perawatan Anak | windamaki's blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s