Mencoba Berhenti Menghakimi

pray
Apa jadinya jika semua orang tidak memiliki wajah, warna kulit, kartu identitas, bahkan tidak perlu berpakaian? Apa jadinya jika kita semua memiliki tubuh yang sama persis antara satu dengan yang lainnya? Bagaimana cara membedakan manusia satu dengan yang lainnya jika bentuk fisik kita semua sama?

Perbuatan, hanya perbuatan lah yang mampu membedakan manusia satu dengan yang lainnya.

Percakapan singkat dengan ibu saya tadi pagi membuat saya mengingat tentang peristiwa ketika masih bekerja kantoran. Saya sangat senang ketika dulu bekerja di Bank Syariah. Suasananya tenang, damai, orang-orang saling menyapa, dan pengingat untuk beribadah sembahyang pun sangat kental. Kebanyakan nasabahnya sopan dan sangat baik. Saya ingat ada nasabah kami yang seorang ustadz, ia selalu menundukkan pandangan jika dilayani teller wanita, namun amat bersahabat dengan teller laki-laki. Wah, di tempat mana lagi saya bisa mendapatkan penghormatan seperti itu?

Sambil melayani nasabah, saya dan teman di samping saya yang sama-sama teller sering bertukar pikiran. Lebih tepatnya kami sering berdebat mengenai nasabah yang kami layani. Teman saya, yang lulusan sastra Arab namun tidak kearaban itu, sering berkata, “Gue paling sebel sama orang yang ‘atributnya’ lengkap tapi kelakuannya nol besar. Mendingan juga yang biasa aja tapi baik banget.” Sambil mengerutkan kening saya langsung mendebatnya. “Gue malah salut banget sama yang beratribut lengkap, jelas kita juga harus kayak gitu. Mendingan yang begitu lah daripada yang biasa aja walaupun baik.” Perdebatan seperti itu terus kami ulang ketika nasabah spesial kami itu datang.

Nasabah tersebut memang datang rutin untuk bertransaksi di teller. Pasangan suami istri yang berpakaian cerminan Islam secara sempurna. Lengkap dengan dua titik hitam di kening suami dan kerudung panjang sampai ke betis yang dipakai istri. Saya selalu melihat dengan kagum karena mereka terlihat begitu ideal. Namun meskipun saya mengagumi pakaian yang mereka kenakan, jujur saya dan teman-teman lain agak sungkan menghadapi pasangan nasabah ini karena alasan yang tidak perlu disebutkan. Tetapi saya pikir tidak masalah, kedudukan mereka pasti lebih tinggi dibanding kami yang masih berpakaian seenaknya.

Di akhir pekan saya pun gemar mengikuti berbagai kajian. Sehabis shalat subuh, saya berangkat untuk belajar. Rasanya hati ini senang ikut melafalkan Asmaul Husna bersama-sama. Saya merasa bertambah keimanan, apalagi dipandang rajin oleh teman-teman. Rasanya ada kebanggaan tersirat ketika mengatakan, “Habis pulang dari kajian ustad xxxx”.

Tidak lupa saya pun sering menyebarkan artikel tentang wanita calon penghuni neraka karena tidak menutup aurat. Saya ingin mereka berubah, saya yakin teman-teman di sosial media akan sadar setelah membaca artikel tersebut. Tentu kaum muslim yang berpakaian seenaknya sudah salah, apalagi jika ia beragama lain. “Semoga mereka semua mendapat hidayah dan masuk agama Islam,” pikir saya waktu itu.

Seiring waktu berjalan, dimana saya terus berusaha mencari kebenaran, saya dipertemukan dengan seorang guru. Ia tidak berkata banyak, ia hanya menyuruh saya membaca terjemahan ayat Al Qur’an Surat Ali Imran ayat 133-134.

Audzubillahiminasyaitonirojim Bismillahirohmanirohim.
3: 133-134. Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.

Guru saya mengingatkan tentang sejarah kehidupan Nelson Mandela. Bagaimana ia terus berjuang membela keadilan orang banyak, betapa ia diperlakukan licik dan dipenjara puluhan tahun, namun ia memilih untuk memaafkan. Ya, Allah, hal ini baru terpikirkan oleh saya. Kenapa ada perintahMu yang dijalankan oleh Nelson Mandela yang bukan ber-KTP Islam itu? Apakah saya bisa menentukan bahwa ia tidak bertakwa dan akan masuk neraka? Apakah saya berhak menghakimi Nelson Mandela yang juga sama-sama ciptaan Allah?

Saya pun jadi teringat kakak saya yang memang tidak menggunakan kerudung. Ia benar-benar tipe orang yang gemar berbuat baik. Ia tidak memperbolehkan dirinya memiliki waktu luang yang tidak bermanfaat. Ia menulis buku anak dan mencetaknya untuk kemudian dibagikan gratis kepada anak-anak yang kurang mampu. Ia mendongeng ke berbagai panti asuhan dan rumah sakit tanpa meminta bayaran. Bahkan selama berhari-hari ia pernah menjadi kurir makanan bagi orang sakit yang baru saja dikenalnya.

Ada juga seorang publik figur yang melepas kerudungnya. Namun ia terus bekerja menciptakan wadah bagi semua orang untuk berkarya. Ia rutin membagikan terjemahan Al-Qur’an dalam bahasa Inggris, sehingga lebih banyak yang bisa mengerti tentang keindahan ayat Allah. Ia selalu menyebarkan tautan positif di media sosial dan menolak keras untuk mengeluh dan menyebarkan kebencian.

Bukankah kita hidup di dunia ini untuk berlomba-lomba dalam kebaikan? Menaati aturanNya dan menjauhi laranganNya?

Siapa bilang ayat yang mereka langgar lebih banyak dari saya, yang berkerudung namun tidak berusaha memiliki sikap orang bertakwa? Kenapa saya sibuk menasehati dan mencari kesalahan orang lain, sedangkan mereka menyibukkan diri mendekat kepada Allah dengan caranya sendiri?

Saya pun mengingat kalimat yang pernah dikatakan oleh Agustinus Wibowo, seorang penulis sekaligus traveler dunia. Terik matahari Afghanistan sampai cuaca dingin menggigit Tibet pernah ia alami. Tentunya ia juga sudah kenyang menghadapi berbagai tingkah polah orang-orang dengan latar belakang budaya yang berbeda. Pengalamannya itu membuat ia berkata seperti yang tertulis pada bukunya berikut,

“Agama itu bukan di baju. Agama itu ada di dalam hati. Inti agama adalah kemanusiaan.”

― Agustinus Wibowo, Selimut Debu

Untuk urusan bahwa pakaian terbuka akan memancing nafsu orang lain, itu merupakan tanggung jawab masing-masing. Alasan seseorang menggunakan pakaian terbuka merupakan buah dari pikiran dan urusannya sendiri. Sama juga dengan orang yang bernafsu melihatnya. Pertahanan dirinyalah yang patut dipertanyakan, bukannya malah mengutuk dunia karena tidak sesuai dengan syariat yang diajarkan. Setiap orang memiliki ujiannya sendiri-sendiri. Bahkan tafsir ayat Al-Qur’an yang diyakini setiap umat pun bisa berbeda. Bukan hak kita untuk memaksa, menyalahkan, dan mengurusi ujian orang lain. Tetap ingatlah bahwa Allah memberikan ilmu ke dalam dada manusia, tidak usah takut karena Allah tidak pernah luput.

Kalimat guru saya pun terus terngiang di kepala saya, “Tidak ada yang namanya orang baik, yang ada adalah orang yang berbuat kebaikan”. Dalam artian setiap orang harus terus menciptakan kebaikan untuk dirinya dan sekitarnya.

Kini saya percaya, bukan pakaian, golongan agama yang kebetulan tercetak di ktp, bukan warna kulit, bukan seberapa sering kita pergi ke tempat ibadah lah yang menentukan seberapa layakkah kita menjalankan misi penting sebagai manusia. Perbuatan, hanya perbuatan yang bisa membedakan antara satu dengan yang lainnya. Tentunya saya tidak punya hak untuk menentukan siapa yang lebih bertakwa diantara seluruh umat manusia, hanya Allah lah yang bisa menilai seberapa berkualitas makhluk ciptaanNya.

Pemikiran dan pengalaman ini memerlukan proses yang panjang. Mungkin akan terus berlanjut dan bisa berubah sepanjang saya masih hidup dan diberikan pelajaran.

Saat ini saya hanya bisa berusaha, saya pun memutuskan untuk berhenti menghakimi.

Bogor, 19 Januari 2017
Ditulis untuk melepaskan perasaan yang terus mengganjal di dalam dada.
Advertisements

2 thoughts on “Mencoba Berhenti Menghakimi

  1. Pingback: Mencoba Berhenti Menghakimi Part 2 | windamaki's blog

  2. Pingback: Mencoba Berhenti Menghakimi Part 3 | windamaki's blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s