Mencoba Berhenti Menghakimi Part 2

IMG_1597
Tulisan saya kemarin cukup kontroversial ternyata, hahaha. Ada beberapa yang setuju dan menyebarkan tulisan tersebut. Ada juga “seperti yang sudah diperkirakan sebelumnya” mengkritik keras tentang apa yang sudah saya tulis, bahkan ada juga kerabat yang bersedih. Tentu saja pastinya ada yang marah karena saya berani mengatakan bahwa “agama bukan di baju”, karena tafsir Al-Qur’an yang mereka yakini berkata sebaliknya. Senang juga sebenarnya dikritik melalui tulisan dengan penjelasan yang panjang, berarti Indonesia masih punya semangat literasi, kan? (maaf ya ternyata saya menyelipkan misi pribadi) xD

Sebenarnya memang agak kurang tepat jika dibaca sekilas tentang “agama bukan di baju”, karena agama sebenarnya mencakup semua aspek. Agak khawatir jika tulisan tersebut disebarkan dengan maksud pembelaan diri, apalagi untuk kepentingannya sendiri.

Tapi yasudahlah, seperti yang sudah seseorang ingatkan kepada saya, kita harus selalu taawudz dan basmallah sebelum melakukan sesuatu. Jika tulisan itu digunakan melenceng untuk kepentingan sendiri, sudah bukan ranah saya apakah orang tersebut taawudz atau tidak ketika membaca tulisan tersebut, hehe.

Tujuan dari dibuatnya tulisan itu sebenarnya untuk diri saya sendiri. Alasan menulis sebenarnya karena saya sudah terlalu pusing jika terlalu banyak berpikir tanpa menuangkannya kedalam tulisan. Sekali lagi, saya hanya mengingatkan diri saya sendiri. Mengingatkan si “windamaki” yang tadinya selalu menempatkan orang lain dari penampilan luarnya, agar menjadi bisa lebih membuka mata hati.

Dulu saya jelas-jelas memiliki pandangan hitam putih terhadap penampilan seseorang. Pakaian sesuai syariat berarti murni orang baik, pakaian yang tidak sesuai syariat berarti orang yang “kurang” baik. Ketika itu saya pun yakin pandangan saya pasti sepenuhnya benar.

Tapi kenyataan berkata lain. Sudah banyak rekaman CCTV yang menangkap gambar adegan pencurian yang dilakukan oleh orang yang berpakaian tertutup lengkap. Lalu bagaimana dengan itu? Bagaimana dengan seseorang yang dengan sengaja berpakaian tertutup agar mendapat kesan “orang baik”, namun memiliki niat untuk mengambil hak orang lain? Apakah keyakinan saya sebelumnya tetap benar?

Di situlah saya berpikir, bahwa benar-benar bukan hak saya menilai orang lain dari penampilan luarnya. Lebih tepatnya bukan hak saya untuk menilai siapapun, karena hanya Allah yang mengetahui apa niat dan tujuan dari perilaku seseorang. Hanya Allah yang mempu melihat apa yang tersimpan erat di dalam hati. Allah yang menentukan dan mengukur apakah berpakaian tertutup dengan maksud tersebut akan tetap bernilai pahala atau tidak.

Saya ulangi lagi, saya hanya ingin mencoba berhenti menuduh dan menghakimi. Mohon maaf jika tulisan saya menyakiti hati seseorang yang sudah membacanya. Berbeda itu biasa, kan?

Untuk intermezzo, coba perhatikan pakaian yang dikenakan Matahari di foto ini. Pasti akan menyerang logika seseorang yang mengetahui bahwa orangtua si bayi ini adalah seorang muslim. Padahal waktu itu saya memakaikannya baju ini dalam kondisi sudah terlambat menghadiri suatu acara. Kebetulan saya menemukan baju hangat pemberian seseorang yang ukurannya pas sekali untuk Matahari. Ya, dipakaikan saja, apalagi kami harus mengendarai motor. Jadi, apakah Matahari bukan dari orangtua beragama muslim hanya karena menggunakan pakaian bergambar topi santa? x)

Selamat siang, semoga isi hatimu secerah foto Matahari di foto ini :))
Advertisements

One thought on “Mencoba Berhenti Menghakimi Part 2

  1. Pingback: Mencoba Berhenti Menghakimi Part 3 | windamaki's blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s