Mencoba Berhenti Menghakimi Part 3

pray

Baru kali ini saya mendapat feedback tulisan yang membuat semangat menulis menjadi berkobar. Beberapa komentar yang masuk menyiratkan bahwa saya seolah menjadikan dakwah berhijab menjadi tidak penting. Saya membacanya sambil tersenyum-senyum sendiri sambil mengingat masa lalu. Maka, izinkanlah saya si pendongeng dunia maya ini bercerita sedikit tentang awal perkenalan saya dengan kain kerudung.

Saat kuliah, saya merupakan seorang perempuan yang super tomboy. Pakaian favorit saya adalah kemeja yang agak kebesaran dengan bagian lengan yang digulung. Kalau dilihat dari belakang pun pasti tidak akan menyangka saya seorang perempuan, tentunya karena saya memiliki rambut super pendek seperti kebanyakan laki-laki.

Secara tidak kebetulan, saya dipertemukan dengan teman baru. Awalnya saya agak sungkan berdekatan dengannya, karena yang saya ketahui ia adalah anggota Rohani Islam. Saya berpikir pasti ia akan cerewet dan terus mendakwahi saya tentang pakaian apa yang “seharusnya” saya kenakan. Membayangkannya saja sudah membuat saya menjadi malas.

Rasa hati sebenarnya ingin menjauh, tetapi ada peraturan akademik yang membuat saya “terpaksa” harus terus bersamanya sepanjang kuliah. Lama-lama kami sering berbincang, lama-lama kami menjadi semakin dekat, dan ternyata pikiran saya sebelumnya tidak terbukti sama sekali. Hey, ia seorang anggota Rohani Islam namun tidak pernah mengomentari penampilan saya! Sungguh aneh, ajaib sekali pikir saya.

Walaupun tetap tidak suka dengan latar belakangnya yang menurut saya kelewat relijius itu, diam-diam saya mengaguminya. Mengagumi bagaimana cara ia berbahasa santun kepada orang lain. Mengagumi ketika melihat ia gemar membantu sesamanya. Mengagumi sifatnya yang rendah hati meskipun sebenarnya banyak sekali yang bisa disombongkan. Mengagumi bagaimana sabarnya ia menghadapi saya, si tomboy bermulut kasar dan tukang pacaran. Mengagumi semua keindahan yang ia pancarkan lewat perilakunya.

Lama-lama saya tertarik mengetahui lebih tentang dirinya. Beruntung saya sering melihatnya membaca buku, maka saya memaksanya untuk meminjamkan buku-buku yang ia miliki. Saya tertarik mengetahui apa yang sebenarnya ada dalam pikirannya, apa yang ia pahami, dan apa yang ia yakini. Saya ingin menguak segala rahasia yang membuat keindahannya begitu terpancar.

Saya membaca buku-bukunya, saya bertanya segala hal yang tidak saya ketahui dengan bertukar surat dengannya bahkan ketika kuliah sedang berlangsung. Saya penasaran, saya benar-benar ingin tahu segalanya.

Yap, akhirnya beliau berhasil membuat saya berhijab meskipun sebenarnya ia tidak pernah mengajak sama sekali.

Namun, jangan kira saya otomatis menjadi indah sepertinya setelah menggunakan kerudung. Perjalanan masih amat panjang. Belum lagi setelah berkerudung, perasaan merasa lebih benar dan lebih baik ikut menggelayut di dalam dada. Saya menggunakan cara agresif, dengan memaksa dan menakut-nakuti dalam berdakwah. Mungkin cara itu efektif untuk sebagian kecil orang. Lebih mungkin lagi malah membuat orang menjauhi hal yang saya anggap benar, karena dari cara saya yang keras ternyata terselip kesombongan. Saya dibutakan oleh sesuatu yang saya anggap benar namun lupa menyertakan Allah, sang Maha Pengasih dan Penyayang. Na’udzubillahimindzalik.

Izinkanlah saya yang sekarang melakukan cara yang saya anggap sebuah perbaikan. Izinkan saya melakukan dengan cara yang berbeda. Izinkan saya mencoba mengikuti jejak rekan saya yang berdakwah dengan caranya, tanpa pernah menyebutkannya langsung namun terpancar dari perilakunya. Tidak ada yang dapat memastikan bahwa cara yang saya yakini sekarang benar atau salah, yang bisa saya lakukan hanyalah berdoa dan berusaha. Tentu perjalanan masih amat sangat panjang. Saya masih berupa manusia yang berlumuran dosa, bahkan masih sangat jauh dari hal yang sudah teman saya contohkan.

Maka sekali lagi, izinkanlah saya untuk melakukannya dengan cara yang berbeda.

Baca: Mencoba Menghakimi Part 1

Baca: Mencoba Menghakimi Part 2

Advertisements

2 thoughts on “Mencoba Berhenti Menghakimi Part 3

  1. Dear, Kak Windamaki.
    Saya sudah membaca ketiga artikel Kakak dan berikut respon/komentar saya:
    1. Terkait Nelson Mandala, mungkin sebaiknya kita memang tidak perlu lagi menilai seseorang apalagi yg sudah wafat, apakah mereka dpt masuk syurga atau bagaimana. Akan tetapi, kita juga perlu mengingat kisah Paman Rasulullah yang meninggal dalam keadaan kafir, sebaik apapun Beliau, Abu Thalib selalu mendukung dan melindungi Rasulullah. Akan tetapi Rasul pun tidak bisa menyelamatkan Pamannya tersebut dari api neraka.
    Maka dapat dikatakan keislaman itu adalah poin mutlak untuk kita. Kita pun belum tentu bisa menjadi sebaik dan seberuntung Abu Thalib yang mendapat keringanan di neraka (”Dia berada di permukaan neraka. Andai bukan karena aku, niscaya dia berada di kerak neraka.” (HR. Ahmad 1774 dan Bukhari 3883), sumber https://konsultasisyariah.com/21687-apakah-abu-thalib-paman-nabi-mati-kafir.html.)

    Dr. Zakir Naik juga sering menyinggung tentang pentingnya status keislaman kita. (Terlepas dari kita suka atau tidak terhadap cara dakwah Dr. Zakir Naik, materi yang disampaikan Dr. Zakir Naik dapat kita ambil hikmah dan pembelajaran.)

    2. Terkait poin berpakaian (artikel part 2), bukankah kita tidak diperbolehkan meniru-niru ataupun memakai simbol seperti kaum lain? Meski demikian saya memang tidak mencari tahu apakah topi merah dengan motif bulu berwarna putih termasuk dalam simbol kaum lain atau tidak. Akan tetapi apabila kita diliputi keraguan, maka lebih baik dihindari.

    3. Terkait artikel part 3, iya, Kak. Kita fokus memperbaiki diri masing-masing dulu, sambil terus saling mengingatkan antar sesama muslim/muslimah. 🙂 Terus berusaha untuk meluruskan niat kita yakni untuk meraih ridho Allah SWT. 🙂
    Perasaan merasa lebih baik daripada orang lain pun juga suka menempel dalam hati saya, kita sama-sama belajar untuk meluruskan niat dan banyak istighfar. :’)

    Untuk mulai mengajak orang lain untuk ikut berhijrah, saya pribadi pun belum dapat sampai pada kemampuan tersebut. Kita berdoa saja supaya semua orang-orang yg kita sayang segera mendapatkan hidayah. 🙂

    Salam, Farikha. 🙂

    • Dear, Mbak Farikha
      Terima kasih, saya senang tulisan saya bisa membuahkan sebuah tulisan lagi :)) Tentunya pasti ada yang tidak setuju namun sedikit sekali yang mau ikut menuangkannya dalam tulisan.

      1. Sekali lagi terima kasih juga karena secara tidak langsung anda mengingatkan untuk lebih banyak membaca, sehingga semoga nanti saya bisa membuat percontohan tambahan selain Nelson Mandela. Tapi mungkin untuk di poin ini kita tidak bisa menemukan titik temu. Karena saya benar-benar tidak mau mempermasalahkan agama apa yang tertulis di ktp orang lain. Mungkin memang tertulis bukan Islam, tapi siapa yang tahu apa yang ada di hatinya dan siapa yang bisa menilainya? Bukan saya yang jelas. Perlu kita ketahui bahwa di beberapa terjemahan Al-Qur’an ada beberapa kata kafir yang diartikan “ungrateful”. Lalu bagaimana jika saya sedang dalam keadaan tidak bersyukur? Saat ini saya lebih memilih menunjuk hidung sendiri untuk introspeksi daripada dengan yakin menunjuk orang lain sebagai kafir atau munafik.

      2. Untuk meniru-niru pakaian umat lain di sini saya rasa kurang jelas pernyataannya. Karena pakaian yang kita pakai hampir sama seperti wanita di Kristen Koptik, bukan berarti kita yang meniru atau mereka yang meniru kan? Jadi hampir sama seperti poin satu, kini saya benar-benar tidak mau menilai orang dari pakaian luarnya.

      3. Ya, semoga kita mendapatkan jalan yang yang diridhai Allah.

      Sekali lagi, terima kasih banyak 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s