Bicara Tentang Menulis (atau lebih tepatnya “kebodohan tertulis”)

BACALAH

gambar ini diambil dari twitter mas mas kreatif @maswaditya yang super keren

Menurut saya, bicara sama saja dengan menulis. Setidaknya bicara pada diri sendiri, karena kalau berbicara langsung pun sebenarnya saya mengalami kesulitan, hehe.

Kelemahan yang sebenarnya juga keuntungan menulis adalaaah…. dengan menulis, kalimat yang kita ucapkan akan terdokumentasi. Sayangnya tulisan dapat terdokumentasi dengan “terlalu baik”, sehingga kadang membuat kita terjebak sendiri. Sudah berkali-kali saya terjebak dan malu sekali dengan tulisan konyol yang pernah saya buat. Contohnya seperti #CeritaBelajarASI yang satu ini.

Ketika dulu saya belum menikah dan baru belajar tentang ASI, saya “kekeuh” bahkan menghina para ibu yang memberi makanan instan kepada anaknya (dan tulisan tersebut masih ada di blog saya). Sekarang? Sudah beberapa kali saya memberi biskuit instan kepada Matahari. Menyebalkan. Ternyata diri saya yang dulu menghina si Ibu Winda yang sekarang. Dulu merasa benar, sekarang kebenaran itu saya anggap sombong dan kurang pengalaman, hehe.

Di sinilah saya bertekad, akan terus menulis sehingga “kebodohan” saya bisa terus terdokumentasi. Sehingga ketika menghadapi anak atau menantu yang kelak yang memiliki pendapat berbeda dengan saya, harapannya saya akan bisa lebih “open minded”. Saya sendiri pun mengalami proses yang berubah-ubah, kenapa anak-anak saya tidak boleh menjalani prosesnya sendiri? Ya, harapannya sih nanti begitu. Namanya juga harapan, ya~

Nah, kali ini saya kembali “terjebak” dengan tulisan yang pernah saya buat, bahkan tulisan itu baru dibuat kemarin. Beberapa hari terakhir saya menulis hal yang berbau “perbedaan”. Intinya saya mengajak orang-orang untuk bisa menerima perbedaan. “Berbeda itu biasa, kan?” kata saya kemarin.

Barusan saya berbincang dengan pak suami, ia mengatakan sesuatu yang membuat nyelekit. “Kadang orang berteriak minta diterima bahwa ia berbeda, namun ia sendiri pun lupa menerima perbedaan orang lain,” ujarnya santai seperti biasanya.

JLEBB!

Rasanya ada pisau yang menusuk hati saya. Saya tidak sadar bahwa saya pun tidak bisa menerima perbedaan orang lain. Nyatanya saya “meng-unfollow” beberapa teman facebook saya karena merasa tulisan di statusnya sangat mengganggu. Lha, padahal kenapa harus terganggu? Berbeda itu biasa, kan? Jadi ya biasa saja menghadapi status-status yang berbeda dengan keyakinan kita.

Saya menjadi ingat bahwa saya pernah membaca hal yang tidak jauh berbeda dari yang sudah suami saya katakan. Maka, di sini saya akan mengutip kalimat Mbak Dian yang ia tulis di blognya (www.dianparamita) beberapa bulan yang lalu. Semoga saja beliau tidak keberatan ya. Tulisan ini ia beri judul “Jangan Unfriend Teman Facebook”.

“Jangan di-unfriend, jangan di-unfollow. Baca dan dipahami, apakah pendapat mereka benar sehingga kita jadi belajar pandangan baru, tidak benar tapi penting untuk ditanggapi, atau ngaco dan biarkan saja lewat? Kita jadi belajar tenang dan open mindedOpen minded tidak selalu terbuka pada hal-hal modern dan liberal. Open minded terbuka pada segala hal, termasuk pemikiran ekstrimis sekalipun. Mari bareng-bareng belajar open minded!” – Dian Paramita –

Jadi, saya sekali lagi “mendapat pelajaran” dari tulisan yang saya buat kemarin-kemarin. Semoga saya terus rajin menulis, sehingga mata hati saya bisa terbuka dan terus menyadari kesalahan yang terus saya buat ((yang berjibun amit-amit saking banyaknya)).

Oya, sebagai penutup akhir agar tulisan ini lebih “berfaedah”, saya kembali mengutip kalimat keren dari orang keren, Mbak Ollie Salsabeela. Tulisan ini saya ambil dari blognya (salsabeela.tumblr.com). Semoga beliau tidak keberatan juga ya~

“The true meaning of Islam is surrender. You’re a Muslim when you’re at peace because you have unconditional trust to God. La Ilaha IllAllah. There’s only one God, Allah. Your nafs and your anger shouldn’t be your god. When there’s no spirituality in what you’re doing, you’re losing the connection to your heart, you follow your logic and you forget compassion to humanity. This is truly, a hell on earth.” – Ollie Salsabeela –

dan tentunya juga kalimat cinta dari Allah, sang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

“Al- Hujurat:13. Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

“Az- Zariyat:8. sesungguhnya kamu benar-benar dalam keadaan berbeda-beda pendapat”

Sekian, semoga akhir pekan ini menjadi hari yang menyenangkan :))

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s