Serba Serbi Kehamilan Kedua

IMG_5186

Audzubillahiminasyaitonirojim Bismillahirohmanirohim

Sebenarnya saya berkeinginan untuk “kembali” tidak menggunakan KB setelah melahirkan anak kedua nanti. Rasanya ingin saja memiliki tiga anak dengan jarak berdekatan. Kalau boleh jujur sih inginnya enam, tapi mungkin sebaiknya 3 saja yang tidak diatur jaraknya, sedangkan yang lain mulai diatur per dua tahun.

Hmmm, sayangnya ini hanya rencana saya sendiri, suami sudah menolak mentah-mentah. Hahhaaaahaaaa… “Ndak mampu kamu!” ujar pak suami di dalam pikiran saya. Sebenarnya ia menggunakan penjelasan yang lebih lembut dari yang sudah saya tuliskan di tanda kutip xp.

Pak suami melihat saya sudah sangat kewalahan hanya dengan mengurus satu anak saja. Apalagi mau lebih dari dua katanya. Tapi kenyataannya walaupun dirasanya saya tidak mampu, saat ini saya pun sedang memampu-mampukan diri menghadapi ujian.

Saat ini kondisi kami bertiga (Matahari, Buwin, dan Ayah Herry) sedang sakit demam dan batuk. Walaupun saya demam dan batuk parah sampai mengigau selama dua hari, tapi saya masih mencuci dan menjemur setumpuk cucian di hari kedua ketika saya masih di puncak demam. Saya pun masih menggendong Matahari kemana-mana, memasak (sekali), melipat baju, dan mencuci dengan keadaan perut semakin membesar. Saya tidak meminum obat sama sekali hingga tidak bisa mengistirahatkan badan dengan sedikit bantuan parasetamol. Tapi rasanya Allah tetap memampukan saya untuk tetap sedikit beraktivitas, bahkan bisa tetap menulis walaupun sambil batuk-batuk sekarang xD.

Tapi tidak bisa dimungkiri memang saya merasakan ada kemunduran-kemunduran ketika saya hamil kedua. Matahari sudah terlihat “jelas” jadi sangat kurus. Mungkin karena ASI saya berkurang drastis dan menu makanannya kurang variatif sehingga ia kurang nafsu makan.

Saya pun kurang sering melatih sensorinya karena selalu merasa kurang sehat. Sehingga di checklist tumbuh kembang usianya memang ada beberapa kegiatan yang terlambat dikuasainya. Untuk hal ini bahkan sudah dalam tahap harus menggunakan bantuan terapis. Lain kali mungkin akan saya ceritakan di postingan tersendiri ya. Karena memang baru mendaftar saja ke terapis jadi memang belum bisa bercerita lebih banyak :))

Tapi walaupun “kemunduran” sudah jelas terlihat dan membuat saya sedikit ragu untuk merencanakan anak ketiga. Di lubuk hati kecil saya yang paling dalam saya percaya bahwa kemunduran ini sifatnya hanya sementara. Saya sangat yakin ketika saatnya tandem nursing nanti, Matahari akan mendapatkan berat badan yang normal kembali, bahkan kemungkinan ia akan menjadi gemuk. Kehadiran adik barunya nanti pun akan membuatnya “terpaksa” berbagi dan bermain selama 24 jam yang akan membuat banyak keterampilan sensorinya semakin terasah.

Jadi saya berpikir bahwa keadaan yang terlihat amat “tidak sempurna” seperti sekarang hanya bagaikan anak panah yang sedang ditarik mundur untuk kemudian dapat melesat cepat. Saya percaya kemunduran yang dirasakan sebenarnya merupakan bagian dari proses untuk berkembang. Jadi jangan memupuskan harapan kecil, nikmati keadaan yang sedang dijalankan 🙂

Sebenarnya proses perjalanannya sendiri tidak semudah seperti yang sudah saya tuliskan. Rasanya benar-benar ampun-ampunan sampai saya sering berpikir “I QUIT!!!”. Tapi tugas menjalankan kehidupan rumah tangga memang amatlah spesial karena kita tidak mungkin berhenti menjalankan segala ujian kebahagiaannya x))

Saya pun pernah membaca bahwa pernikahan itu termasuk Mistaqan Ghaliza, yaitu perjanjian yang kuat. Bahkan perjanjian ini disejajarkan dengan perjanjian para Nabi mengemban tugasnya. Benar-benar suatu perjanjian yang agung dan berat. Jadi kalau sudah menikah, ya bersiap saja mengemban tugas yang sangat spesial ini. Benar-benar tanggung jawab dunia akhirat karena dengan menikah kita diberi tanggung jawab mengantarkan insan untuk dapat “bertarung” menghadapi permasalahan generasinya nanti. Eh, maaf jika kalimat barusan tidak mudah dimengerti. Kembali saya ingatkan bahwa saya memang selalu menulis untuk diri sendiri x).

Sekali lagi, teruslah berharap pada satu titik kecil kebaikan yang bahkan ketika sedang masa suram sangat sulit sekali menemukannya. Percaya dan yakin Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kemampuannya. Allah is setting everything right.Maktub” kalau kata di buku The Alchemist (eh, udah pada baca belum? :p)

Sekian, selamat malam, selamat beristirahat. Semoga kamu terselamatkan dari segala duka, kesulitan dan nestapa 🙂

Baca juga: no backup plans – berbagai pilihan sebelum melahirkan

Advertisements

One thought on “Serba Serbi Kehamilan Kedua

  1. Pingback: Kehamilan yang (Tidak) Dinantikan | windamaki's blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s