Bicara Tentang Uang dan Biaya Perawatan Anak

51

Matahari dan alat-alat bermainnya yang sederhana xD

Konon perihal uang adalah hal tabu untuk dibicarakan. Tapi bagaimana ya, kali ini saya ingin mengutarakan sedikit pemikiran saya tentang hal ini xD. Sekaligus memang ingin membaca dengan mata sendiri sebenarnya apa yang ada di dalam pikiran saya :).

Mari kita flashback ke cerita beberapa tahun yang lalu agar jelas bagaimana pemikiran ini berawal 🙂

Dulu saya pernah bekerja di bank. Gajinya pun cukup besar untuk seorang jomblowati yang jarak antara kantor dan rumahnya hanya beberapa menit. Pekerjaan plus suasananya bisa dibilang sangat sangat enak dan menyenangkan. Tetapi setelah dua tahun bekerja, saya merasa hampa. Mungkin karena memang dari dulu saya tidak memiliki keinginan untuk bekerja dengan sistem seperti di bank. Saya bekerja hanya karena merasa mahasiswi fresh graduate mungkin normalnya memang mencari pekerjaan kantoran.

Akhirnya saya berdoa, kalau memang bekerja di bank adalah pilihan tepat untuk saya, maka saya minta dihapuskan rasa kegundahan ini. Sedangkan kalau ada pilihan lain, saya meminta tolong dengan sangat agar Allah memberikan saya tanda-Nya. Ajaib, keesokan harinya langsung ada yang menawarkan saya bekerja di tempat yang membuat saya terkagum-kagum. Saya ditawarkan bekerja di yayasan yang bergerak di bidang sosial yang setiap kegiatannya terdengar sangat istimewa sekali. Ya ampun, rasanya bahagia bukan kepalang.

Setelah diberikan penawaran, tidak perlu waktu lama saya langsung mengajukan surat pengunduran diri di bank. Boss saya yang super baik hati bertanya penasaran, “Kenapa alasannya?” Saya hanya bilang saya tidak memiliki cita-cita menjadi direksi bank xD. Singkat cerita, saya keluar dari bank dan diwawancara di tempat bekerja yang baru. Walaupun honor yang ditawarkan benar-benar terjun bebas dari honor sebelumnya di bank, entah kenapa keyakinan saya benar-benar bulat untuk bekerja di yayasan.

Saya pun tidak menyesal memutuskan berpindah tempat kerja. Yayasan sosial benar-benar membuat saya memiliki sudut pandang yang baru dalam kehidupan. Di sana mata kepala saya diperlihatkan bahwa kita benar-benar perlu bekerja ekstra keras untuk kesejahteraan masyarakat yang kurang mampu.

Yayasan di tempat saya “belajar” ini benar-benar memiliki berbagai kegiatan positif yang diberikan secara cuma-cuma kepada masyarakat sekitar yang membutuhkan. Dimulai dari USG ibu hamil, penyuluhan kesehatan dan pendidikan, pemberian nasi bungkus setiap hari, PAUD, perpustakaan beserta kegiatannya, dan masih sangat banyak lagi hal positif lainnya merupakan kegiatan rutin yang diadakan oleh yayasan.

Luar biasa, di tempat seperti ini lah kita pasti tidak akan berasa hidup segan mati pun tak mau. Alasannya karena pekerjaan di bidang sosial akan mengkayakan hati, sekaligus pekerjaannya memang tidak ada habisnya! 😀

Namun jika bicara soal passion, walaupun sudah sangat senang ditempatkan di yayasan, jujur saya kurang menikmati posisi yang diberikan. Memang saya hanya manusia yang tidak pernah puas ya -,-. Ketika itu saya menempati posisi administrasi manajemen dan benar-benar merasa blank dengan setiap pekerjaan yang diberikan. Saat itu memang saya masih mencari-cari apa sebenarnya yang menjadi passion saya, namun saya pastinya saya tidak menemukan kesenangan berada di posisi tersebut.

Baca Juga: Menulis, Menulis, dan Menulis

Tapi tentunya Allah tidak akan memberikan kita pekerjaan yang sia-sia ya, ada maksud dan tujuan dari setiap kejadian. Saya pun mendapatkan pelajaran lain yang mengubah pandangan saya khususnya tentang masalah materi.

Di sana saya belajar bahwa uang bukanlah sumber dari segalanya. Namun kita tetap bisa mendapatkan sesuatu yang diinginkan tanpa harus dengan uang dari kantong sendiri xD. Contohnya walaupun nominal honor yang tercetak di buku tabungan memang ada perubahan, tetapi saya malah merasa lebih kaya ketika berada di yayasan.

Jika ingin baca buku, saya tinggal mendatangi perpus yang sudah disediakan. Ketika hamil dan ingin USG, ada kegiatan di yayasan yang rutin mendatangkan dokter kandungan beserta fasilitas USG gratis. Ketika ingin mendapat ilmu-ilmu baru di bidang apapun, yayasan akan mengadakan pelatihan di segala bidang untuk meningkatkan keahlian para pegawainya.

Baca Juga: Gerakan Memanusiakan Manusia

Kebetulan memang ketika bekerja di bank, saya gemar menghabiskan sebagian besar gaji saya untuk hal-hal tersebut. Setiap bulannya saya pasti membeli buku, ke dokter karena sakit melulu, dan mengikuti seminar atau pelatihan yang saya anggap perlu. Cocok sekali bukan! Allah mengenalkan saya pada “dunia lain” bahwa kita tetap bisa mendapatkan sesuatu yang sama dengan cara berbeda. Entahlah harus bekerja keras di bidang yang diyakini benar walaupun tidak komersial, membantu orang lain banyak-banyak, belajar dari segala macam sumber, lebih bijak membuat pilihan, atau apapun.

Memang sekarang saya sudah tidak bekerja di yayasan lagi. Tetapi pastinya saya dibuat yakin bahwa banyak jalan menuju Roma walaupun tanpa uang, haha xD. Hal ini sangat berbeda dengan pemahaman saya sejak kecil bahwa jika kita ingin sesuatu segalanya membutuhkan uang.

Kini ada dua prinsip yang saya anut, menurunkan standar keinginan dan mencari alternatif jika menghadapi suatu tantangan. Apalagi Ayah Herry memiliki prinsip anti menghutang uang dan anti kredit barang. Jika perlu kami memang harus hidup sesederhana mungkin dan jangan kebanyakan ingin ini itu xD.

Baca Juga: Tentang Pernikahan

— Tapi kalau bisa memilih ya tentunya lebih nyaman jika punya banyak uang plus bisa mendapatkan hal yang kita inginkan ya :p Asalkan hal yang kita inginkan ditujukan sesuai jalannya, yaitu untuk mendekat kepada Allah semata 😀 —

Maka karena itu lah saya tetap merasa biasa-biasa saja ketika mendengar orang lain berbicara tentang biaya perawatan anak yang aduhai dan membuat kapok “beranak”. Biasa saja karena saya tidak merasa demikian. Pikiran untuk memiliki anak lagi pun masih ada xD. Toh sampai saat ini saya merasa tidak pernah direpotkan untuk membeli barang-barang tidak perlu untuk Matahari.

Contoh kecilnya saja saya tidak membeli minyak telon, bedak, parfum ini itu, dll. Memang terlihat biasa saja, tapi hal ini saya lakukan karena dokter pun melarang hal tersebut. Bukannya malah menguntungkan si bayi, berbagai macam produk tersebut malah akan mengganggunya.

Untuk masalah kesehatan, saya bisa menggunakan pelayanan posyandu, puskesmas, atau BPJS. Makanan pun menurut ahli gizi lebih baik dari sumber lokal daripada impor karena lebih segar dan harganya terjangkau. Saya memilih menggunakan kain gendongan daripada stroller karena memang posisi berayun ketika bayi dalam gendongan akan menguntungkan bayi untuk melatih keseimbangannya. Di sisi lain pun bayi bisa belajar banyak dengan melihat pemandangan sekitar dan melihat gerak bibir ibu ketika berbicara.

Baca Juga: Pilihan Hidup

Memang hal ini menjadikan kita perlu belajar lebih banyak dan harus kreatif mencari alternatif pilihan. Tapi memang ilmu lah yang bisa menangkis pikiran bahwa kita baru bisa “hidup” jika kita memiliki kemampuan untuk membeli barang yang diinginkan. Yaa, sepertinya pikiran ini baru bisa datang karena saya menyesuaikan diri dengan kondisi keuangan tunggal, ya xD. Tapi setelah mengalami sendiri kondisi seperti sekarang, saya benar-benar baru menyadari bahwa sebenarnya hidup dapat dijalani dengan sangat sederhana 🙂

Mungkin saya bisa terlihat santai karena memang anak saya baru satu dan belum memasuki usia sekolah, ya? Tapi saya memang tidak menargetkan untuk bisa menyekolahkannya di sekolah yang konon terbaik sekaligus termahal, biasa saja, bahkan peluang untuk memilih homeschooling pun cukup besar. Oya, untuk homeschooling ini bukan karena masalah biaya ya, karena memang tergantung keluarganya sendiri yang mementukan besaran biaya dalam menjalankan homeschooling. Saya dan Ayah Herry memang cukup sering membahas hal ini karena kami melihat banyak nilai plus yang didapat dari homeschooling. Ah, mungkin hal ini sebaiknya kita bahas di tulisan lain saja nanti 😀

Baca juga: Jangan sampai anak kita mengalami hal yang kita alami dulu

Memang kami belum 100% memastikan tentang pendidikannya kelak. Namun sebagai orang tua saya memiliki PR besar untuk menanamkan sifat wajib manusia kepadanya. Pedoman-pedoman dasar untuk selalu ingat memohon ampunan kepada Tuhan, selalu menyedekahkan harta di waktu lapang dan sempit, harus selalu bisa menahan amarah dan memaafkan orang lain, senantiasa berbuat kebaikan, dan lain-lain sesuai petunjuk Al-Qur’an.

Tentunya ini tugas yang SANGAT BERAT karena saya harus menggembleng diri sendiri terlebih dahulu *_*. Pemikiran inilah yang membuat saya tidak melihat uang sebagai sesuatu yang krusial, karena PR orang tua terhadap anaknya sebenarnya lebih berat dan besar daripada masalah keuangan.

Errr, tentunya saya mengakui bahwa pemikiran saya di detik ini bisa saja ada yang menganggap naif. Saya memang belum merasakan sendiri bagaimana jika terjadi sesuatu hal yang tidak terduga atau bagaimana jika memiliki lebih dari satu anak. Tapi  inilah pikiran dan kondisi yang saya jalani saat ini xD. Sengaja saya rekam dalam tulisan karena mungkin saja cucu saya ingin membaca kisah hidup saya nanti, haaahaaa.. :D.

Baca Juga: Buku Tulisan Kakek

Sebenarnya ini sekadar curhat saja karena saat ini saya sangat ingin membaca buku harian nenek saya yang konon bertumpuk-tumpuk itu. Sayangnya konon buku hariannya sudah dibuang tidak lama setelah beliau berpulang, huh! Padahal saya ingin tahu sekali cerita bagaimana beliau bisa merawat 12 anaknya sendiri :(.

Hmmm, yasudahlah.. Pastinya saya berterima kasih sekali kepada nenek saya yang tidak memutuskan menggunakan KB. Kebetulan ibu saya terlahir sebagai anak ke 8, jika nenek saya merasa capek dan memutuskan menggunakan KB ketika anaknya sudah 7, berarti saya pun tidak lahir dong, hahhaha. Duuh, pikiran macam apa inii xD

Baiklah cukup sekian self talk yang kurang jelas untuk kali ini x)). Selamat sore, selamat beraktivitas. Semoga kamu terselamatkan dari segala duka, kesulitan dan nestapa 🙂

Advertisements

6 thoughts on “Bicara Tentang Uang dan Biaya Perawatan Anak

  1. Cerita juga perjalanan Kakak bertemu jodoh dong? hehe… Apakah pernah menolak/ditolak/berpisah sebelum bertemu suami Kakak? Pertimbangan2nya apa saja sih? hehe…

  2. Pingback: pengalaman menjadi teller dan customer service (^_^)/ | windamaki's blog

  3. Pingback: 6 Blogger Favorit ala Buwin ;D | windamaki's blog

  4. Pingback: Catatan Kecil Talk Show “Menjadi Keluarga Cerdas Finansial” | windamaki's blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s