2

Kabar Terbaruuu~

Udah lama ngga nulis jurnal harian karena sekarang lagi fokus nulis to do list melulu. Okay, langsung fokus ke yang mau dibahas aja yakk.. Jadi inilah yang berkeliaran di otak buwin akhir-akhir ini (dan yang harus dituliskan biar otak segeran dikit):

1. Belajar rapi-rapi dari FLYLADY.NET

Awalnya nggak sengaja baca comment seorang ibu di facebook. Ibu itu bilang bahwa beliau belajar decluttering dari flylady.net. Wahh, pas dibuka ternyata cocok sama tema hidup buwin saat ini yang berjibaku sama urusan rumah, hahhaha. Sebenernya PR pertama dari flylady adalah kita diminta untuk “shine your sink” dan selalu pake sepatu di rumah. Belum buwin kerjakan tapi udah kepikiran sih. Hal yang baru dicoba adalah beres-beres dapur 10 menit aja, plus memusnahkan barang-nbarang di dapur yang sudah tidak dipakai lebih dari dua minggu. Gampang kan :D. Ternyata website flylady itu wajib diubek-ubek bangett buat orang-orang yang rumahnya alhamdulillah bala. Semoga nanti bisa aplikasiin ilmunya lebih lanjut.

2. Berat badan anak kurang ideal jika diliat dari kurva

Kalau mikirin ini rasanya otak jadi kemana-mana. Ada dua hal yang berkelebat di otak. Pertama lagi mikirin hal yang memang masih berlaku di masyarakat (yang budaya patriarkinya masih kenceng), yaitu Tumbuh kembang anak = Rapor ibu. Kejam banget rasanya kalau dibilang kayak gitu yah :’D. Tapi ya gimana, lahirnya dari rahim ibu sih. Dan buwin sebagai ibu pun memang ngerasa bersalah bangett pas berat badan anak ngga naik kurva atau pas anak terlambat bisa jalan. Tanpa sadar kita sebagai ibu jadi satu-satunya terdakwa aja gitu (dan perasaan ini otomatis muncul dari dalam hati, huhu). Tapi harus inget juga pesan dari “pak guru”, bahwa anak adalah cerminan ketakwaan orang tua. Orang tua itu idealnya orang yang mengasuh anak ya, ayah dan ibu. Jelass sekali kalau ada dua orang yang berperan dalam tumbuh kembang anak. Jadi inget pas konsultasi gizi di puskesmas dulu, dokternya bilang ayah dan ibu harus bekerja sama. Pas ibu lagi sibuk bebenah, ayah yang menemani anak makan. Eitss, tapi sebelum marah-marah dan nyalahin ayah, harus inget sesuai kata Al-Qur’an kita harus Asy-Syura (musyawarah). Ayah dan ibu pun perlu musyawarah dalam pola pengasuhan anak. Dan….. wah wah wah, ga sadar bahas hal ini kepanjangan, dan kok tulisannya jadi semacam demo gitu, hahhaha xD. Stop dulu deh.

3. Bisnis apa yang harus mulai dibangun?

Bukannya enggak pernah nyoba cari uang sejak jadi stay at home mom yah, pernah bangett kok. Pernah jadi tukang nulis artikel lepas, yang mana ngasuh anaknya jadi keteteran parah karena ternyata ngabisin waktu banget. Pernah juga jualan kripik, telur, mochi, cuanki. Tapi kayaknya masih mentok-mentok aja gitu belum sreg di hati. Ya iya sih bisnisnya ngga dilanjutin, jadi ya gak keliatan juga perkembangannya xD. Tapi jadi sadar kadang winda riweuh sama hal-hal itu, namun prioritasnya malah keteteran. Jadinya nggak worth it banget. PR dari pengalaman-pengalaman sebelumnya sih kayaknya winda harus ahli dulu di bidang manajemen rumah tangga, baru deh merambah yang lain-lain. Atau kalau mau merambah bidang lain pun diwaktuin dengan porsi yang sedikit aja dulu. Biar ngga malah kacau semuanya. Yak, semangat! (semangat apa nih?) (ya ampun ini isi blog bener-bener buat curhat) (ini kenapa pake tanda kurungnya banyak amat).

Hal-hal itu aja sihh yang kayaknya kepikiran banget sekarang. Semoga abis nulis ini langsung *cring-cring-cring* muncul ide brilian lagi dari langit. Hahha..

Dah dulu yaaa, tugas rumah sungguhlah mengantri minta diurusin. Semoga harimu terselamatkan dari segala duka dan nestapa. Ciao!

 

 

0

Samudra 1 Tahun 2 Bulan

Audzubillahiminasyaitonirojim Bismillahirohmanirohim.

Hari ini Samudra usianya 1 tahun 2 bulan. Mana nulisnya pas jam 2 pagi, pas banget sama waktu lahirnya 😆. Selamat bertambah besar ya, Mamudlaa…

foto tadi siang, gigit-gigit kemasan inaco.

Kalau bulan kemarin samudra udah ngider-ngider keliling rumah. Sekarang beliau udah LARI-LARI 😰. Kemarenan ibu lagi jemur baju di atas. Pas ibu liat di rumah dan garasi kok ngga ada ni anak, kemanaaaa diaaaaa.. Taunya udah mau deket jalan raya dong ikut kakak2nya. Continue reading

0

5 Fakta Buwin

Kali ini tantangan ngeblognya diminta untuk menuliskan 5 fakta tentang diri sendiri. Waduhh, apakah ada yang mau baca? :s. Tadinya maunya isinya pamer apaan kek gitu yang bisa dipamerin, tapi kok nggak ada. Hahhaha. Nulis kehidupan realita beserta penyakit yang saya punya aja deh yaa xD

1. Stay at home mom (SAHM)
Berhenti kerja kantoran karena pas hamil sempet pendarahan. Kejutan lainnya baru ketauan juga punya kista segede bayi (gara-gara pola hidup yg ga sehat, duh!) Apalagi ujung2nya punya anak jarak deket juga kan, ga ada yang bisa jagain kalau buwin ngantoran lagi. Jadiiiiilaaahh merasakan jadi ibu-ibu rumahan yang beberes, masak, endebre-endebre. Jujur ini jalan hidup yang syulit 😂😂. Continue reading

1

Untuk Saat Ini Cukup Tahu Keadaan dan Tahu Diri

Audzubillahiminasyaitonirojim Bismillahirohmanirohim

Seperti biasa, mengisi blog ini hanya karena kasihan saja jika blog tidak disentuh. Ditambah lagi Matahari sedang pergi dengan ayah, plus Samudra sedang asyik tidur siang. Klop!

Ceritanya buwin akhir-akhir ini sedang “agak” sedih karena tidak bisa mengikuti seminar ini itu. Apalagi sekarang banyak seminar-seminar kece, gratis, dan dekat pula dari rumah. Tentu alasan tidak dapat menghadirinya karena buwin tidak bisa meninggalkan dua bayi di rumah (dan akan sangat merepotkan jika mereka berdua dibawa sekaligus!).

IMG_20180227_155437

bayi kecil dan bayi besar

Jadi buwin hanya bisa menelan ludah ketika melihat undangan-undangan seminar parenting yang terus menggoda itu. Hiks. Continue reading

1

2018 – Balance

Audzubillahiminasyaitonirojim Bismillahirohmanirohim

Thyroid yang semakin membengkak di leher merupakan “pertanda” yang jelas diperlihatkan oleh Allah. Jika mengacu pada teori, penyebab bengkaknya tiroid adalah karena ketidakseimbangan hormon. Namun jika ingin kesimpulan yang lebih mudah,  ketidakseimbangan aktivitas saya sehari-hari “ternyata” menjadi pupuk yang memunculkan penyakit-penyakit aneh.

Jika dilihat lagi sejarah beberapa tahun ke belakang, ketidakseimbangan ini rasanya muncul dari terlalu banyak pikiran, kurangnya aktivitas fisik, konsumsi yang kurang sehat, dan hilangnya aplikasi spiritual.

Maka tema 2018 yang saya pilih adalah BALANCE.

http://images.agoramedia.com/everydayhealth/gcms/5-Exercises-to-Improve-Balance-for-Multiple-Sclerosis-722x406.jpg

Saya yang tadinya terlalu banyak menulis, akan mencoba menyeimbangkannya dengan bicara.

Saya yang tadinya tidak pernah olah raga, akan mencoba memiliki waktu rutin untuk melakukan yoga.

Saya yang tadinya terlalu banyak menghabiskan waktu berinternet di rumah, akan mencoba mendengar dan melihat alam langsung dengan mata kepala sendiri.

Saya yang tadinya sok sibuk dan lupa berdoa, akan mencoba mendekat kembali kepada Sang Maha Pengasih dan Penyayang.

Semangat!

 

 

0

Catatan Kecil Talk Show “Menjadi Keluarga Cerdas Finansial”

Audzubillahiminasyaitonirojim Bismilahirohmanirohim

Yap, kali ini Buwin memilih tayangan “Menjadi Keluarga Cerdas Finansial” untuk mengisi akhir pekan yang sepi ini. Lumayan, memiliki waktu bebas satu hari tanpa mengasuh Matahari membuat buwin bisa mempelajari hal baru.

Sebenarnya masalah keuangan menjadi momok bagi buwin karena memang merasa tidak ada ilmu sama sekali di bidang ini. Tapi menurut para motivator, hadapilah ketakutanmu, jangan dihindari x). Maka mari kita hadapi dengan mencari ilmunya! 😀

Buwin hanya mencatat poin-poin yang buwin ingat saja ya dalam tayangan ini. Semoga buwin bisa ingat dan dapat mengaplikasikannya sehari-hari.

Berikut tips kecerdasan finansial dalam keluarga:

1. Lakukan pencatatan

Ini PR banget sebenernya, waktu untuk melihat instagram jadi berkurang dong yah kalau harus nyatet setiap hari xp. Tapi menurut pakar finansial yang ada pada tayangan tersebut, masalah keuangan sangat dekat dengan emosi. Buwin setuju dengan pendapat ini mengingat memiliki pengalaman pribadi yang serupa.

Beberapa waktu yang lalu Ayah Herry tiba-tiba kaget bahwa uang bulanan yang tersisa “tinggal segini” dan memberitahu buwin untuk menginformasikan jika buwin ingin mengambil uang. Lah, kan kesel ya dengernya, haha. Buwin merasa tidak pernah jajan-jajan dan penghasilan suami benar-benar untuk keberlangsungan hidup di rumah saja.

Nah tapi ternyata justru disitulah letak kedodolannya. 

Buwin berasumsi bahwa Ayah Herry bisa mengkalkulasikan sendiri apa yang buwin pikir akan terlihat. Misalnya dengan melihat Matahari makan buah setiap hari. Logika buwin “harusnya” Ayah Herry tahu bahwa buah itu harganya sekian. Padahal ya jika melihat keseharian Ayah Herry, sangat mungkin beliau tidak mengetahui harga barang-barang untuk kebutuhan sehari-hari. JADI INTINYA ADALAH (kebanyakan cerita deh buk)…. Lakukanlah pencatatan keuangan agar menghindari asumsi yang berubah menjadi emosi. Oya, ayat mengenai pencatatan keuangan merupakan salah satu ayat yang terpanjang dalam Al-Qur’an. Jadi memang jelas bahwa pencatatan itu sangatlah penting, bukibuk!

2. Mengetahui tujuan berkeluarga dan tujuan finansial bersama-sama

Sebenernya belum pernah membahas tujuan keluarga dengan rinci bersama Ayah Herry. Tapi jika diambil serpihan-serpihan dari pembicaraan sore kami setiap hari, sudah hampir jelas bahwa orientasi kami adalah anak.

Sebelum menikah, ayah herry bercita-cita untuk bisa bekerja di rumah agar bisa mengajari anak berbagai hal. Sedangkan buwin dulu ingin menikah karena merasa bisa banyak belajar hal baru jika kita memiliki anak. Ya bisa dibilang tema besarnya adalah anak ya, walaupun lumayan berbeda tujuannya xD.

Sebenarnya contoh yang disebutkan oleh pakar tersebut adalah tujuan finansial seperti keinginan memiliki mobil, rumah, pendidikan dll. Karena dengan memiliki tujuan finansial, akan membuat kita “lebih sadar” jika ingin menggunakan uang keluarga.

Kalau saya pribadi sebenarnya tidak terlalu merisaukan hal tersebut. Saat ini yang saya prioritaskan adalah kualitas dan kuantitas waktu bersama anak dan bukan masalah barang. Memang kami masih tertatih-tatih mengenai “kualitas” yang diberikan, tapi sepertinya jika diceritakan akan melenceng dari pembahasan finansial deh, haha.

Namun jika mendengar obrolan sehari-hari, sepertinya Ayah Herry ingin memfasilitasi anak-anak dengan barang yang akan memudahkan dalam proses edukasi. Dan ini tentunya memerlukan biaya.

Yap, pokoknya ini akan dijadikan PR obrolan sore kami ke depan deh ya.

3. Suami dan Istri harus sama-sama memiliki kecerdasan finansial

Kalau kata Pak Satria Dharma, kita tidak boleh egois dengan memberikan masalah kita kepada Allah. Misalnya tidak memiliki perencanaan keuangan karena bilang “rezeki gimana Allah”. Sedangkan Allah sudah memberikan kita otak untuk dapat menyelesaikan masalah kita sendiri.

Menurut pakar, kita perlu memiliki tabungan darurat keluarga (alias 3x gaji bulanan) dan asuransi (setidaknya asuransi kesehatan). Jika sudah memiliki kedua hal tersebut, barulah kita bisa merambah pada dunia investasi.

Suami dan istri pun perlu bijak dalam berbelanja dan perlu update mengenai ilmu finansial. Ingat, anak adalah peniru ulung. Orang tua boros akan menghasilkan anak yang boros pula.

Sudah, itu dulu saja ya catatan buwin kali ini xD. Saatnya menghadapi kenyataan hidup (rumah pabalatak dan perlu dirapikan).

Semoga harimu terselamatkan dari segala duka, kesedihan, dan nestapa. Ciao~ 🙂