0

Catatan Kecil Talk Show “Menjadi Keluarga Cerdas Finansial”

Audzubillahiminasyaitonirojim Bismilahirohmanirohim

Yap, kali ini Buwin memilih tayangan “Menjadi Keluarga Cerdas Finansial” untuk mengisi akhir pekan yang sepi ini. Lumayan, memiliki waktu bebas satu hari tanpa mengasuh Matahari membuat buwin bisa mempelajari hal baru.

Sebenarnya masalah keuangan menjadi momok bagi buwin karena memang merasa tidak ada ilmu sama sekali di bidang ini. Tapi menurut para motivator, hadapilah ketakutanmu, jangan dihindari x). Maka mari kita hadapi dengan mencari ilmunya! 😀

Buwin hanya mencatat poin-poin yang buwin ingat saja ya dalam tayangan ini. Semoga buwin bisa ingat dan dapat mengaplikasikannya sehari-hari.

Berikut tips kecerdasan finansial dalam keluarga:

1. Lakukan pencatatan

Ini PR banget sebenernya, waktu untuk melihat instagram jadi berkurang dong yah kalau harus nyatet setiap hari xp. Tapi menurut pakar finansial yang ada pada tayangan tersebut, masalah keuangan sangat dekat dengan emosi. Buwin setuju dengan pendapat ini mengingat memiliki pengalaman pribadi yang serupa.

Beberapa waktu yang lalu Ayah Herry tiba-tiba kaget bahwa uang bulanan yang tersisa “tinggal segini” dan memberitahu buwin untuk menginformasikan jika buwin ingin mengambil uang. Lah, kan kesel ya dengernya, haha. Buwin merasa tidak pernah jajan-jajan dan penghasilan suami benar-benar untuk keberlangsungan hidup di rumah saja.

Nah tapi ternyata justru disitulah letak kedodolannya. 

Buwin berasumsi bahwa Ayah Herry bisa mengkalkulasikan sendiri apa yang buwin pikir akan terlihat. Misalnya dengan melihat Matahari makan buah setiap hari. Logika buwin “harusnya” Ayah Herry tahu bahwa buah itu harganya sekian. Padahal ya jika melihat keseharian Ayah Herry, sangat mungkin beliau tidak mengetahui harga barang-barang untuk kebutuhan sehari-hari. JADI INTINYA ADALAH (kebanyakan cerita deh buk)…. Lakukanlah pencatatan keuangan agar menghindari asumsi yang berubah menjadi emosi. Oya, ayat mengenai pencatatan keuangan merupakan salah satu ayat yang terpanjang dalam Al-Qur’an. Jadi memang jelas bahwa pencatatan itu sangatlah penting, bukibuk!

2. Mengetahui tujuan berkeluarga dan tujuan finansial bersama-sama

Sebenernya belum pernah membahas tujuan keluarga dengan rinci bersama Ayah Herry. Tapi jika diambil serpihan-serpihan dari pembicaraan sore kami setiap hari, sudah hampir jelas bahwa orientasi kami adalah anak.

Sebelum menikah, ayah herry bercita-cita untuk bisa bekerja di rumah agar bisa mengajari anak berbagai hal. Sedangkan buwin dulu ingin menikah karena merasa bisa banyak belajar hal baru jika kita memiliki anak. Ya bisa dibilang tema besarnya adalah anak ya, walaupun lumayan berbeda tujuannya xD.

Sebenarnya contoh yang disebutkan oleh pakar tersebut adalah tujuan finansial seperti keinginan memiliki mobil, rumah, pendidikan dll. Karena dengan memiliki tujuan finansial, akan membuat kita “lebih sadar” jika ingin menggunakan uang keluarga.

Kalau saya pribadi sebenarnya tidak terlalu merisaukan hal tersebut. Saat ini yang saya prioritaskan adalah kualitas dan kuantitas waktu bersama anak dan bukan masalah barang. Memang kami masih tertatih-tatih mengenai “kualitas” yang diberikan, tapi sepertinya jika diceritakan akan melenceng dari pembahasan finansial deh, haha.

Namun jika mendengar obrolan sehari-hari, sepertinya Ayah Herry ingin memfasilitasi anak-anak dengan barang yang akan memudahkan dalam proses edukasi. Dan ini tentunya memerlukan biaya.

Yap, pokoknya ini akan dijadikan PR obrolan sore kami ke depan deh ya.

3. Suami dan Istri harus sama-sama memiliki kecerdasan finansial

Kalau kata Pak Satria Dharma, kita tidak boleh egois dengan memberikan masalah kita kepada Allah. Misalnya tidak memiliki perencanaan keuangan karena bilang “rezeki gimana Allah”. Sedangkan Allah sudah memberikan kita otak untuk dapat menyelesaikan masalah kita sendiri.

Menurut pakar, kita perlu memiliki tabungan darurat keluarga (alias 3x gaji bulanan) dan asuransi (setidaknya asuransi kesehatan). Jika sudah memiliki kedua hal tersebut, barulah kita bisa merambah pada dunia investasi.

Suami dan istri pun perlu bijak dalam berbelanja dan perlu update mengenai ilmu finansial. Ingat, anak adalah peniru ulung. Orang tua boros akan menghasilkan anak yang boros pula.

Sudah, itu dulu saja ya catatan buwin kali ini xD. Saatnya menghadapi kenyataan hidup (rumah pabalatak dan perlu dirapikan).

Semoga harimu terselamatkan dari segala duka, kesedihan, dan nestapa. Ciao~ 🙂

 

Advertisements
0

PesanSingkat#1: Bicara Melalui Passion

Saya pernah bilang kalau semua orang sebaiknya menulis. Hmmm.. Dipikir-pikir lagi ya ternyata ga juga ya. Misalnya kalau si A hobinya bikin patung, ya sayang juga ngabisin waktu buat nulis. Walaupun  memang kalau beliau menulis tentang hobinya, “mungkin” akan membantu orang lain lebih banyak.

Tapi..tapi.. ternyata bicara itu tidak harus selalu dengan mulut atau tulisan kok. Kalau patung tersebut dikerjakan dengan sangat detail dan penuh kasih sayang, ya itulah cara pekerja seni tersebut bicara. Dan karyanya jelas berbicara lebih banyak dari sekedar blah blah blah dalam tulisan.

Satu pesan terakhir deh. Passion itu “ternyata” penting. Rugi juga kan ditanganin sama dokter yang ogah-ogahan melayani pasiennya, hanya karena dalam lubuk hatinya blio ga suka jadi dokter?

Gitu aja si x)

1

Perkembangan Matahari Memasuki Usia 21 Bulan

(Late post: diambil dari blog bagaimanaharimu.blogspot.co.id)

Audzubillahiminasyaitonirojim Bismillahirohmanirohim

Setelah mengetahui ada keterlambatan motorik kasar karena kesalahan pola asuh pada Matahari, ada beberapa hal lain yang turut saya usahakan untuk diubah. Beberapa halnya adalah sebagai berikut.

1. Melepas ketergantungannya dengan layar

IMG_9022
Ketika usianya 1 tahun 1 bulan, tepatnya ketika saya hamil kedua, segala aturan memang menjadi kendor. Biasanya ia tidak pernah saya beri layar sama sekali, tetapi ternyata gadget sangat membantu saya dikala mual melanda. Ketika saya benar-benar lemas, video teletubbies lah yang menolong saya untuk menghiburnya (yang sayangnya malah membuat perkembangan bahasanya terhambat). Ia yang tadinya cukup aktif menggunakan sign language, jadi lebih memilih untuk ber aah-aah-uuh-uuh panik jika ingin sesuatu.
Continue reading