0

#ModyarHood: Pacaran Setelah Punya Anak

Audzubillahiminasyaitonirojim. Bismillahirohmanirohim.

Kebetulan beberapa waktu lalu saya cerita di Instastories tentang kisah awal saya ketemu suami. Intinya kami “ketemu langsung nikah” alias ga pake pacaran dulu sebelumnya. Jadi yang namanya pacaran berdua kira-kira cuma setahun, karena setelah itu anak pertama kami lahir. Lanjut dua tahun kemudian anak kedua kami pun lahir. Eh, tapi itu cerita lain…. pffffftttt… :p

img_20171002_151140_215-1960202916.jpg

foto suami tampak belakang~

Continue reading

Advertisements
0

Catatan Kecil Talk Show “Menjadi Keluarga Cerdas Finansial”

Audzubillahiminasyaitonirojim Bismilahirohmanirohim

Yap, kali ini Buwin memilih tayangan “Menjadi Keluarga Cerdas Finansial” untuk mengisi akhir pekan yang sepi ini. Lumayan, memiliki waktu bebas satu hari tanpa mengasuh Matahari membuat buwin bisa mempelajari hal baru.

Sebenarnya masalah keuangan menjadi momok bagi buwin karena memang merasa tidak ada ilmu sama sekali di bidang ini. Tapi menurut para motivator, hadapilah ketakutanmu, jangan dihindari x). Maka mari kita hadapi dengan mencari ilmunya! 😀

Buwin hanya mencatat poin-poin yang buwin ingat saja ya dalam tayangan ini. Semoga buwin bisa ingat dan dapat mengaplikasikannya sehari-hari.

Berikut tips kecerdasan finansial dalam keluarga:

1. Lakukan pencatatan

Ini PR banget sebenernya, waktu untuk melihat instagram jadi berkurang dong yah kalau harus nyatet setiap hari xp. Tapi menurut pakar finansial yang ada pada tayangan tersebut, masalah keuangan sangat dekat dengan emosi. Buwin setuju dengan pendapat ini mengingat memiliki pengalaman pribadi yang serupa.

Beberapa waktu yang lalu Ayah Herry tiba-tiba kaget bahwa uang bulanan yang tersisa “tinggal segini” dan memberitahu buwin untuk menginformasikan jika buwin ingin mengambil uang. Lah, kan kesel ya dengernya, haha. Buwin merasa tidak pernah jajan-jajan dan penghasilan suami benar-benar untuk keberlangsungan hidup di rumah saja.

Nah tapi ternyata justru disitulah letak kedodolannya. 

Buwin berasumsi bahwa Ayah Herry bisa mengkalkulasikan sendiri apa yang buwin pikir akan terlihat. Misalnya dengan melihat Matahari makan buah setiap hari. Logika buwin “harusnya” Ayah Herry tahu bahwa buah itu harganya sekian. Padahal ya jika melihat keseharian Ayah Herry, sangat mungkin beliau tidak mengetahui harga barang-barang untuk kebutuhan sehari-hari. JADI INTINYA ADALAH (kebanyakan cerita deh buk)…. Lakukanlah pencatatan keuangan agar menghindari asumsi yang berubah menjadi emosi. Oya, ayat mengenai pencatatan keuangan merupakan salah satu ayat yang terpanjang dalam Al-Qur’an. Jadi memang jelas bahwa pencatatan itu sangatlah penting, bukibuk!

2. Mengetahui tujuan berkeluarga dan tujuan finansial bersama-sama

Sebenernya belum pernah membahas tujuan keluarga dengan rinci bersama Ayah Herry. Tapi jika diambil serpihan-serpihan dari pembicaraan sore kami setiap hari, sudah hampir jelas bahwa orientasi kami adalah anak.

Sebelum menikah, ayah herry bercita-cita untuk bisa bekerja di rumah agar bisa mengajari anak berbagai hal. Sedangkan buwin dulu ingin menikah karena merasa bisa banyak belajar hal baru jika kita memiliki anak. Ya bisa dibilang tema besarnya adalah anak ya, walaupun lumayan berbeda tujuannya xD.

Sebenarnya contoh yang disebutkan oleh pakar tersebut adalah tujuan finansial seperti keinginan memiliki mobil, rumah, pendidikan dll. Karena dengan memiliki tujuan finansial, akan membuat kita “lebih sadar” jika ingin menggunakan uang keluarga.

Kalau saya pribadi sebenarnya tidak terlalu merisaukan hal tersebut. Saat ini yang saya prioritaskan adalah kualitas dan kuantitas waktu bersama anak dan bukan masalah barang. Memang kami masih tertatih-tatih mengenai “kualitas” yang diberikan, tapi sepertinya jika diceritakan akan melenceng dari pembahasan finansial deh, haha.

Namun jika mendengar obrolan sehari-hari, sepertinya Ayah Herry ingin memfasilitasi anak-anak dengan barang yang akan memudahkan dalam proses edukasi. Dan ini tentunya memerlukan biaya.

Yap, pokoknya ini akan dijadikan PR obrolan sore kami ke depan deh ya.

3. Suami dan Istri harus sama-sama memiliki kecerdasan finansial

Kalau kata Pak Satria Dharma, kita tidak boleh egois dengan memberikan masalah kita kepada Allah. Misalnya tidak memiliki perencanaan keuangan karena bilang “rezeki gimana Allah”. Sedangkan Allah sudah memberikan kita otak untuk dapat menyelesaikan masalah kita sendiri.

Menurut pakar, kita perlu memiliki tabungan darurat keluarga (alias 3x gaji bulanan) dan asuransi (setidaknya asuransi kesehatan). Jika sudah memiliki kedua hal tersebut, barulah kita bisa merambah pada dunia investasi.

Suami dan istri pun perlu bijak dalam berbelanja dan perlu update mengenai ilmu finansial. Ingat, anak adalah peniru ulung. Orang tua boros akan menghasilkan anak yang boros pula.

Sudah, itu dulu saja ya catatan buwin kali ini xD. Saatnya menghadapi kenyataan hidup (rumah pabalatak dan perlu dirapikan).

Semoga harimu terselamatkan dari segala duka, kesedihan, dan nestapa. Ciao~ 🙂

 

7

Tentang Pernikahan

IMG_7628

Pagi ini diawali dengan suara tawa Matahari yang membangunkan saya pukul dua pagi. Ya, bocah kecil ini memang ceria sekali jika waktu tidurnya cukup dan perutnya belum terasa lapar. Sambil berguling-guling dan bercanda dengan Matahari di kasur, tangan saya gatal ingin membuka facebook yang akhirnya menyebabkan Matahari merengek karena ibunya menjadi lebih fokus melihat layar. Hmm, sepertinya memang sudah saatnya saya melakukan pengaturan waktu agar tidak bermain smartphone ketika sedang bersama Matahari. Continue reading

0

marriage isn’t for me

kalo kata pak noveldy, “mau bahagia? buang ego.. mau ego? lupakan kebahagiaan” emmm… dan pas banget beberapa hari yang lalu kakak saya nyuruh baca artikel ini, diambil dari sethadamsmith.com . silakan membaca 😉

Having been married only a year and a half, I’ve recently come to the conclusion that marriage isn’t for me.

Now before you start making assumptions, keep reading.

I met my wife in high school when we were 15 years old. We were friends for 10 years until… until we decided no longer wanted to be just friends. I strongly recommend that best friends fall in love. Good times will be had by all.

Nevertheless, falling in love with my best friend did not prevent me from having certain fears and anxieties about getting married. The nearer Kim and I approached the decision to marry, the more I was filled with a paralyzing fear. Was I ready? Was I making the right choice? Was Kim the right person to marry? Would she make me happy?

Then, one fateful night, I shared these thoughts and concerns with my dad.

Perhaps each of us have moments in our lives when it feels like time slows down or the air becomes still and everything around us seems to draw in, marking that moment as one we will never forget.

My dad giving his response to my concerns was such a moment for me. With a knowing smile he said, “Seth, you’re being totally selfish. So I’m going to make this really simple: marriage isn’t for you. You don’t marry to make yourself happy, you marry to make someone else happy. More than that, your marriage isn’t for yourself, you’re marrying for a family. Not just for the in-laws and all of that nonsense, but for your future children. Who do you want to help you raise them? Who do you want to influence them? Marriage isn’t for you. It’s not about you. Marriage is about the person you married.”

It was in that very moment that I knew that Kim was the right person to marry. I realized that I wanted to make her happy; to see her smile every day, to make her laugh every day. I wanted to be a part of her family, and my family wanted her to be a part of ours. And thinking back on all the times I had seen her play with my nieces, I knew that she was the one with whom I wanted to build our own family.

My father’s advice was both shocking and revelatory. It went against the grain of today’s “Walmart philosophy”, which is if it doesn’t make you happy, you can take it back and get a new one.

No, a true marriage (and true love) is never about you. It’s about the person you love–their wants, their needs, their hopes, and their dreams. Selfishness demands, “What’s in it for me?” while Love asks, “What can I give?”

Some time ago, my wife showed me what it means to love selflessly. For many months, my heart had been hardening with a mixture of fear and resentment. Then, after the pressure had built up to where neither of us could stand it, emotions erupted. I was callous. I was selfish.

But instead of matching my selfishness, Kim did something beyond wonderful — she showed an outpouring of love. Laying aside all of the pain and anguish I had caused her, she lovingly took me in her arms and soothed my soul.

Marriage is about family.

I realized that I had forgotten my dad’s advice. While Kim’s side of the marriage had been to love me, my side of the marriage had become all about me. This awful realization brought me to tears, and I promised my wife that I would try to be better.

To all who are reading this article — married, almost married, single, or even the sworn bachelor or bachelorette — I want you to know that marriage isn’t for you. No true relationship of love is for you. Love is about the person you love.

And, paradoxically, the more you truly love that person, the more love you receive. And not just from your significant other, but from their friends and their family and thousands of others you never would have met had your love remained self-centered.

Truly, love and marriage isn’t for you. It’s for others.

oyasumi 🙂